Maf’ul Muthlaq
March 12, 2018
Kemiripan Bahasa Arab dan Spanyol
March 17, 2018

Mustatsna’ — Yaitu isim yang jatuh sesudah ‘adatul istitsna (perabot yang digunakan untuk mengecualikan) untuk menyelisihi hukum kata sebelum ‘adatul istitsna’. Adapun isim sebelum ‘adatul istitsna’ disebut dengan mustatsna minhu. Contoh :

نَجَحَ اَاطُّلَابُ إِلَّأ حَسَنًا – حَضَرَ اَلتَّلَامِيْذُ إِلَّا عَلِيًّا

(Para pelajar istu lulus kecuali Hasan – Murid-murid itu telah hadir kecuali si ‘Ali)

‘Adatul istitsna’ jumlahnya ada 8 :

  • Terdiri dari huruf : إِلَّا
  • Terdiri dari isim : غَيْرُ – سِوًي – سًوًي – سَوَاءٌ
  • Bisa diberlakukan sebagai fi’il madhi atau sebagai huruf, yaitu :

خَلَا – عَدَ – حَاشَا

Mustatsna’ dengan إِلَّا

  • Jika mustatsna’ yang jatuh setelah إِلَّا berupa kalam taam (menyebutkan mustatsna’ minhu), dan mujab (tidak didahului oleh nafi, istifham, atau nahi), maka wajib dibaca nashob.

Contoh : نَجَحَ اَاطُّلَابُ إِلَّأ حَسَنًا

  • Jika mustatsna’ yang jatuh setelah إِلَّا berupa kalam taam, tapi manfi (didahului oleh nafi, istifham, atau nahi), maka boleh nashob dan boleh menjadi badal. Contoh :

مَا حَضَرَ اَلتَّلَامِيْذُ إِلَّا عَلِيًّا/عَلِيٌّ –  مَا قَرَأْتُ الْكُتُبَ إِلَّا قُرْأَنًا – مَا مَرَرْتُ بِأَوْلَادِ الْأُسْتَاذِ إِلَّا عَلِيًّا/عَلِيّ

(Murid-murid itu tidak hadir kecuali ‘ali – saya tidak membaca kitab-kitab kecuali Al-Qur’an – saya tidak berlewatan dengan anak-anak Ustadz kecuali hanya dengan Ali)

  • Jika mustatsna’ yang jatuh sesudah إِلَّا adalah kalam naqish (tidak menyebutkan mustatsna’ minhu), maka hukumnya dibaca sesuai tuntutan ‘amil sebelumnya.

Contoh : مَا حَضَرَ إِلَّأ عَلِيٌّ – مَا قَرَأْتُ إِلَّأ قُرْأَنًا – مَا مَرَرْتُ إِلَّا بِعَلِيٍّ

(Tidaklah hadir kecuali si ‘Ali – tidaklah saya membaca kecuali Al-Qur’an – tidaklah saya berlewatan kecuali dengan si ‘Ali)

Adapun mustatsna’dengan غَيْرُ, سِوًي, سُوًي  dan سَوَاءٌ , maka hukumnya selalu jar sebagai mudhof ‘ilaih. Sedang i’rob adatul istitsna’nya sebagaimana i’robnya mustatsna’ yang jatuh setelah إِلَّا, yaitu :

  • Wajid dibaca nashob jika jatuh sesudah kalam taam mujab, seperti : حَضَرَ التَّلَامِيْذُ غَيْرَ عَلِيٍّ
  • Boleh nashob, dan boleh pula menjadi badal, jika jatuh setelah kalaam taam manfi, seperti : مَا حَضَرَ التَّلَامِيْذُ غَيْرَ عَلِيٍّ atau مَا حَضَرَ التَّلَامِيْذُ غَيْرُ عَلِيٍّ
  • Dibaca sesuai dengan tuntutan amil sebelumnya jika jatuh setelah kalaam tam naqish, seperti :

مَا حَضَرَ غَيْرُ عَلِيٍّ – مَا قَرَاْتُ غَيْرَ قُرْأَنِ – مَا مَرَرْتُ بِغَيْرِ عَلِيِّ

Sedangkan mustatsna’ yang jatuh setelah ‘adatul istitsna خَلَا, عَدَا,   dan حَاشَا , maka hukumnya bisa dibaca nashob dan boleh pula dibaca jar. Dibaca nashob apabila memberlakukan-nya sebagai fi’il madhi, dan dibaca jar jika memberlakukan-nya sebagai huruf jar.  Contoh :

حَضَرَ التَّلَامِيْذُ خَلَا عَلَيًّا/ عَلِيِّ – خَرَجَ الطُّلَابُ عَدَا أَخَاكَ/أَخِيْكَ – نَجَحَ الطُّلَابُ حَاشَا حَسَنًا/حَسَنٍ

(Telah hadir murid-murid itu kecuali ‘Ali – telah keluar para pelajar itu kecuali saudaramu – telah lulus para pelajar itu kecuali Hasan)

Pelajarilah bahasa Arab. Karena sesungguhnya ia adalah bagian dari ad-din (agama)” (“Umar ibn Khatthab)

Belajar bahasa Arab lebih intensive dan mudah, di Kursus Al-Azhar Pare. Ayuk, segera gabung bersama kami DISINI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *