Athof
February 28, 2018
Isim-Isim yang Dibaca Nashob
March 3, 2018

Badal Yaitu tabi’ yang disebutkan untuk menjelaskan maksud dari kalimah sebelumnya dengan tanpa perantara huruf ‘athof. Kalimah yang pertama dimakan mubdal minhu, sedang kalimah yang ke-dua itulah yang dinamakan badal.

Mubdal minhu, bisa berupa kalimah isim, dan boleh juga berupa kalimah fi’il. Dan badal-nya harus mengikuti mubdal minhu-nya dalam segi kalimah dan I’robnya. Jika mubdal minhu-nya dibaca rafa’, maka badal-nya juga harus dibaca rafa’. Seperti contoh: جَاءَ مُحَمَّدٌ أَبُوكَ (Telah datang Muhammad, yaitu ayahmu)

Dan jika mubdal minhu-nya dibaca nashob, maka badal-nya juga harus dibaca nashob. Contoh:

أَكَلْتُ الرَّغِيفَ نِصْفَهُ  (saya telah makan roti, yakni sepertiganya)

Dan jika mubdal minhu-nya dibaca jar, maka badal-ya juga musti dibaca jar. Contoh:

أُعْجِبْتُ بِحُسَيْنٍ أَخِيْكَ (Saya kagum dengan Husayn, saudaramu)

Dan jika mubdal minhu-nya dibaca jazm, maka badal-nya juga harus dibaca jazm. Contoh:

مَنْ يُؤْمِنْ يُثَبْ, يُدْخَلْ جِنَانً (Barangsiapa yang beriman, maka ia akan diganjar,yakni dimasukkan surga)

Macam-macam badal ada 4, diantaranya:

  • Badal kul min kul/Muthobiq, yaitu badal yang merupakan isi dari mubdal minhu atau badal yang menggantikan mubdal minhu-nya secara utuh. Contoh:

جَاءَ مُحَمَّدٌ أَبُوكَ (Telah datang Muhammad, yaitu ayahmu)

  • Badal ba’du min kul, yaitu badal yang merupakan sebagian dari mubdal minhu. Contoh:

أَكَلْتُ الرَّغِيفَ نِصْفَهُ     (saya telah makan roti, yakni sepertiganya)

  • Badal isytimal, yaitu badal yang terkandung dalam mubdal minhu. Contoh:

نَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ (Zaid bermanfaat padaku, yakni ilmunya)

  • Badal Gholath, yaitu badal yang merupakan ralatan dari mubdal minhu. Contoh:

خُذْ ثَلَاثَةً, أَرْبَعَةً (Ambilah tiga! eh empat)

Catatan:

  • Badal kul min kul dan badal isytimal harus mengandung dhomir yang kembali kepada mubdal minhu-nya sebagaimana contoh di atas
  • Biasanya badal ditemukan dalam suatu kalimah, setelah:
  • Nama atau gelar, seperti: قَالَ أَلإِمَامُ أَلشَّيخ مُحَمَّد
  • Pembagian, seperti: اَلْكَلِمَةُ ثَلاَثَةُ أَقْسَامٍ: اِسْمٌ وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ
  • Apabila badalnya berupa lafadz ابن, maka mubdal minhu-nya tidak boleh ditanwin, sedang lafadz ابن, dihilangkan alifnya, dan kalimah yang berada setelahnya dimajrurkan sebagai mudhof ilaih-nya. Contoh: قَالَ أَلإِمَامُ أَلشَّيخ مُحَمَّدُ بْنُ قَسِمٍ

Pelajarilah bahasa Arab. Karena sesungguhnya ia adalah bagian dari ad-din (agama)” (“Umar ibn Khatthab)

Belajar bahasa Arab lebih intensive dan mudah, di Kursus Al-Azhar Pare. Ayuk, segera gabung bersama kami DISINI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *