Sekilas Tentang Pare Sebagai Kampung Bahasa

Belajar Mengasyikkan di Al-Azhar
September 1, 2017
Pengalaman yang Bakal Susah Untuk Dilupakan (Adela Anggraini, Jambi)
September 3, 2017

Bismillahirrahmaanirrahiim  

KAMPUNG INGGRIS. Kebanyakan kita mungkin sudah tak lagi asing dengan istilah ini. Mendengar ada orang menyebutnya, kita akan segera faham, bahwa yang dimaksud adalah  sebuah kecamatan di Kediri yang bernama Pare. Tepatnya di desa Pelem dan Tulungrejo. Dua desa yang sejuk, damai, dan jauh dari hingar bingar perkota-an. Jadi Dinamakan kampung  inggris bukan karena disitu banyak orang-orang berkulit putih atau bule-nya lho ya! Memang ada beberapa, tapi mereka tidak tinggal disitu. Boleh jadi sekedar singgah ketika melintasi Kediri. Juga bukan karena dikampung itu bahasa keseharian dari penduduknya adalah bahasa inggris. Bukan. Karena dalam keseharian kebanyakan penduduknya memakai bahasa Indonesia dan atau daerah. Memang ada beberapa kalangan dari penduduk umum seperti penjaga warung, tukang becak, dan lain-lain yang bisa dan biasa berbahasa inggris. Tapi tak banyak. Biasanya mereka itu adalah yang dulu-nya juga pernah ikut kursus bahasa inggris.

Pare, mulai dikenal sebagai kampung inggris, kisah mulanya ketika di tahun 1976 silam, Muhammad kalend  Osen (Biasa dipanggil Mr.Kalend), santri asal kutai, Kalimantan timur,  terpaksa menanggalkan pendidikanya di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo karena keterbatasan biaya. Beiau juga tak bisa pulang ke kampung halamanya, tersebab memang uang yang ada di tangan tidalah mencukupi untuk ongkos perjalanan

Hingga pada satu ketika, atas informasi seorang kawan,beliau pun menimba ilmu kepada KH. Ahmad Yazid di kecamatan Pare, Kediri. Pengasuh pesantren darul falah ini, menurut sebagian riwayat menguasi delapan bahasa asing, termasuk diantaranya bahasa inggris dan arab. Mr. Kalend-pun belajar dan mengabdi di pesantren tersebut.

Suatu hari, pesantren itu kedangan tamu dua mahasiswa dari Universitas di Surabaya. Keduanya bermaksud untuk belajar bahasa inggris kepada Kyai Yazid. Hanyasaja berketapan Kyai Yazid sedang berpergian di Majalenka. Lalu oleh Ibu Nyai, Mr. Kalend diminta untuk mengajarkan bahasa inggris kepada dua mahasiswa tadi. Lima hari belajar disitu, kedua mahasiswa itu pulang dalam keadaan puas. Begitulah,dan akhirnya dari mulut-ke mulut akhirnya muai banyak yang berdatangan ke Pare untuk juga belajar bahasa inggris kepada Mr.Kalend.

Singkat cerita, tanggal 15 Juni 1977, Beliau-pun mendirikan sebuah lembaga kursus bahasa inggris dengan nama BEC (Basic English Course). Dan ini-lah pengkursusan bahasa asing pertama di pare..

Sepuluh tahun berdiri, BEC  kian ramai peminat, dan tentu tak lagi bisa untuk menerima mereka yang datang berjibun-berjibun dari berbagai wilayah di Indonesia ini. Nah, dari sini, para alumnus kemudian tergerak atau termotivasi untuk pula mendirikan pengkhursusan Bahasa Inggris di sini..

Tahun-tahun berlalu, Pare telah benar-benar disulap menjadi kampung bahasa. Kini, tak Cuma pengkhursusan bahasa inggris yang disediakan disini. Ada beberapa lembaga yang juga ,menawarkan berbagai bahasa lain yang terkenal di dunia. Seperti bahasa Arab, Mandarin, Prancis, Spanyol, dan lain-lain.

Jadilah pemandangan di sekitar jalan Barwijaya, kemuning, anyelir, dan sekitarnya ramai dengan para pelajar pendatang yang berlalu lalang dengan sepedah pancal. Sepeda pancal seperti menjadi tranportasi traditional disini.  Umunya para pelajar menyewa sepedah di tempat persewaan yang sangat banyak dan harganya-pun murah. Rata-rata 80 rb perbulan. Murah bukan?

Dan lagi, dengan banyaknya pengkhursusan di Pare ini, banyak diantara masyarakat, baik dari dalam atau luar daerah, yang  memanfaatkanya untuk berbisnis. Seperti membuka jasa pesewaan itu tadi, warung makan dengan harga yang relativ murah, tempat kost-kost-an atau camp, dan lain-lain. pendeknya, per-ekonomian masyarakat sangat terbantu dengan banyaknya pengkursusan bahasa asing di pare ini. Terlebih bagi yang datang dari luar jawa dan juga Jakarta, tentu akan merasa biaya hidup disini sangatlah ringan, hingga tak terlalu ambil pusing dalam mengeluarkan biaya,

“satu porsi nasi goreng disini seharga dengan nasi pecel di tempatku.” Ujar seorang pelajar dari Banjarmasin.

Demikianlah Kecamatan Pare telah benar-benar beralih rupa menjadi kampung bahasa dan  mungkin tak terlalu berlebihan jika ada yang menamakanya sebagai kampung penidikan atau kampung pelajar, sebagaimana Yogyakarta dijuluki sebagai kota pelajar. Karena yang datang kesini adalah palajar dari berbagai lintas wilayah di Indonesia.bahkan ada yang dari Thailand, Malaysia, dan lain-lain…

Baca Juga : Info Pendaftaran Kursus Bahasa Arab Al-Azhar Pare

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *