PERAN BAHASA ARAB DALAM MENENTUKAN HUKUM ISLAM

Daftar Nama Peserta Program Bahasa Arab Al-Azhar Juni 2016
June 8, 2016
FILSAFAT ILMU NAHWU, KAJIAN HERMENEUTIK (1
June 15, 2016

Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling mulia di dunia, karena Allah memilihnya secara khusus menjadi bahasa yang digunakan di dalam Al Quran. Selain itu, bahasa Arab memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pendidikan, terutama dalam memahami agama Islam dengan baik dan benar. Bahasa Arab merupakan bahasa Agama Islam dan bahasa Al-Quran, seseorang tidak akan dapat memahami kitab dan sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bahasa Arab.

Dengan memahami bahasa Arab, penguasaan terhadap Al-Quran dan Al Hadits menjadi lebih mudah dan dengan bahasa arab mengantarkan orang untuk dapat mendalami nilai-nilai dan mengamalkan dalam kehidupan. Firman Allah : Sesungguhnya Kami menurunkan kitab itu sebagai Al-Quran yang dibaca dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal untuk) memahaminya. (Yusuf:2). Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas : Yang demikian itu (bahwa Al -Quran diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Quran) diturunkan kepada Rasul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi. (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

Bahasa arabuntuk menetapkan ketentuan hukum berdasarkan kepada sumber-sumber perundangan Islam yang asal dan pokok seperti al-Quran, al-Sunnah, ijma dan qiyas. Penetapan hukum ini juga berasaskan kaidah yang digunakan oleh para mujtahid dalam menghasilkan sesuatu hukum syara. Para mujtahid menganggap penting bahasa Arab karena sumber hukum diambil dari sumber-sumber berbahasa Arab seperti al-Quran dan as-Sunnah. Jadi, pengetahuan yang mendalam dalam bahasa Arab merupakan syarat utama bagi para mujtahid untuk mengurai dan menafsiri suatu masalah yang berkaitan dengan hukum.

Beberapa contoh bahasa arab dalam al-qur’anyang jelas dapat diperhatikan ialah penggunaan kata kerja imperative (amr) yang menunjukkan kepada hukum wajib.

Allah Swt. أَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

Artinya : Dan dirikanlah sembahyang serta berikanlah zakat

Ayat ini menunjukkan kepada perintah mengerjakan solat dan mengeluarkan zakat. Begitu juga dengan penggunaan bahasa arab kata kerja larangan (nahi) yang menunjukkan kepada hukum larangan atau haram.

Allah Swt. berfirman dalam surat lain وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina

Ayat ini menunjukkan larangan yang membawa kepada hukum haram perbuatan zina dan juga melakukan perkara-perkara yang bisa membawa kepada perbuatan zina.

Kajian dalam bahasa arab adalah unsur penting dalam menghasilkan pemahaman yang jelas dan tepat mengenai suatu hukum. Dengan itu, asas-asas kajian bahasa arab seperti musyarik (sinonim), mutadha (akronim), makna-makna kata huruf dan nama-nama syariyyah merupakan alat utama yang digunakan oleh para ulama mujtahid dalam penentuan sesuatu hukum. Begitu juga dengan fungsi dan penguraian makna bahasa arab yang tepat bagi tiap huruf seperti pemahaman ayat wudhu dalam firman Allah:

وامسحوا برؤوسكم

Artinya : Dan sapulah kepalamu

Imam Syafii berpendapat maksud huruf (jarr) ba dalam ayat adalah untuk menerangkan tentang keadaan tabidh (separuh) yang berarti sebagian. dengan kata lain, menyapu yang dikehendaki dalam ayat ini hanya sebagian kepala.

Mengikuti penafsiran makna ini, mazhab Imam Syafii hanya menentukan usap sedikit saja daripada bagian kepala dengan air (tidak diterangkan kadar sedikit) sebagai salah satu syarat sah wudhu. Imam Malik berpendapat bahwa huruf (jarr) ba dalam ayat tersebut menerangkan tentang zaidah li at-takid (penambahan) yang memberi maksud seluruh. Dengan itu, beliau meletakkan syarat mengusap keseluruhan kepala dengan air ketika berwudhu sebagai satu perkara yang mesti dilakukan.

Abu Hanifah dalam memberi ulasan mengenai ayat ini menyatakan bahwa huruf (jarr) ba dalam ayat memiliki makna lil-ilsaq (sampai atau lekat) yaitu memberi maksud menyampaikan sesuatu kepada sesuatu. Dengan penafsiran ini, maka kepala mesti disapu keseluruhannya dengan air.

Bahasa Arab adalah bahasa kaum muslimin. Hingga akhir zaman nanti bahasa arab akan tetap langgeng sebab al-Qur`an dan Hadits Rasulullah Saw akan terus ada dan eksis hingga saat itu. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai kaum muslimin untuk mempelajarinya dan berusaha seoptimal mungkin untuk dapat menguasai kemahiran bahasa arab ini. Bahkan wajib bagi kita untuk mendalaminya sebagai sarana kita untuk memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Bahasa Arab sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, mempelajari dan menguasai bahasa arab menjadi keperluan setiap muslim. Baginya, bahasa Arab perlu untuk membentuk pribadi sebagai muslim dan meningkatkan kualitas keimanan dan pemahaman terhadap ajaran agama, bahkan perlu bahasa arab sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam.

Bahasa Arab perlu dipandang sebagai bahasa agama dan bukan sebagai bahasa budaya, etnis, kawasan, maupun negara tertentu saja. Itu ditandai dengan banyaknya tokoh dan ulama muslim yang berasal dari bukan kawasan Arab, semisal al-Gazali, al-Biruni, Ibnu Sina, ar-Razi, al-Kindi, dsb., namun menguasai bahasa Arab sebagai bagian dari studi Islam yang mereka tekuni.

Selain itu, agama Islam, yang salah satu unsurnya adalah bahasa Arab, seyogyanya menjadi budaya yang dominan mewarnai kehidupan umat Islam ditingkat pribadi, keluarga, dan masyarakat. Didukung dengan beberapa doktrin ajaran Islam, bahasa Arab terus mempengaruhi masyarakat Muslim di berbagai tempat. Misalnya doktrin bahwa al-Quran harus ditulis dan dibaca dalam bahasa aslinya (bahasa Arab).

Terjemahan al-Quran dipandang sebagai sesuatu diluar al-Quran itu sendiri. Hal ini berbeda dengan Injil di mana ia justru harus diterjemahkan ke berbagai bahasa tanpa menyertakan teks aslinya.

Doktrin pendukung lainnya adalah berbagai ucapan ritual ibadah hanya dianggap sah jika dilakukan dalam bahasa Arab. Tak pelak doktrin-doktrin seperti ini telah memacu motivasi masyarakat Muslim untuk mempelajari dan menguasai bahasa Arab sejak dini agar kelak menjadi Muslim yang baik. Al-Quran bahkan tidak hanya dipelajari cara membacanya, tetapi juga dihafalkan kata perkata secara utuh.

Peranan Bahasa arab terhadap Hukum memiliki kaitan yang erat karena bahasa dan hukum saling berhubungan, saling berpengaruh, bahkan dianggap sebagai penjelmaan masyarakat dan kebudayaan, yang sebaliknya pula dipengaruhi baik oleh bahasa maupun oleh hukum. Dengan kata lain, ada hubungan yang erat antara bahasa dan hukum. Sebagaimana diketahui bahwa hukum merupakan salah satu sarana untuk menciptakan keteraturan dan ketertiban sosial masyarakat.

Ketentuan hukum tersebut utamanya dirumuskan melalui bahasa, khususnya bahasa hukum. Bahasa hukum adalah bahasa (kata-kata) yang digunakan untuk merumuskan dan menyatakan hukum dalam suatu masyarakat tertentu. Hukum hanya dapat berjalan efektif manakala ia dirumuskan melalui bahasa hukum yang tegas dan mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat, dan harus dapat dikomunikasikan dengan baik pada subyek-subyek hukum yang dituju.

Ketepatan menentukan hukum adalah berdasarkan kepada sumber-sumber perundangan Islam yang asal seperti al-Quran, al-Sunnah, ijma dan qiyas. Penetapan hukum ini juga berasaskan kaedah yang digunakan oleh para mujtahid dalam menghasilkan sesuatu hukum syara. Para mujtahid menganggap penting bahasa Arab karena sumber hukum diambil dari sumber-sumber berbahasa Arab seperti al-Quran dan as-Sunnah. Jadi, pengetahuan yang mendalam dalam bahasa Arab merupakan syarat utama bagi para mujtahid untuk mengurai dan menafsiri suatu masalah yang berkaitan dengan hukum. Dengan demikian untuk memahami hukum tersebut diperlukan pemahaman terhadap bahasa Arab.

Fungsi dan Kedudukan Bahasa Arab yaitu :

Pertama : Bahasa Arab adalah bahasa Ibadah, penguat Ruhiyah dan Keimanan

Kedua : Bahasa Arab adalah bahasa untuk memahami Islam

Ketiga : Bahasa Arab adalah bahasa Peradaban dan Pemersatu Dunia Islam

Keempat : Bahasa Arab adalah bahasa Ekonomi Dunia.

Adapun Fungsi Bahasa adalah :

  1. Untuk menyatakan ekspresi diri
  2. Sebagai alat komunikasi
  3. Sebagai alat menyatakan integrasi dan adaptasi sosial
  4. Sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial

Kesimpulan Peranan Bahasa arab terhadap Hukum di dalam islam. Bahasa arab dan hukum islam memiliki kaitan yang erat. Hal tersebut dapat diketahui dengan mengacu pada pendapat Sutan Takdir Alisyahbana yang dikutip Harkristuti Harkrisnowo bahwa baik bahasa maupun hukum merupakan penjelasan kehidupan manusia dalam masyarakat dan merupakan sebagian dari penjelmaan suatu kebudayaan pada suatu tempat dan waktu. Bahasa dan hukum itu saling berhubungan, saling pengaruh, bahkan dianggap sebagai penjelmaan masyarakat dan kebudayaan, yang sebaliknya pula dipengaruhi baik oleh bahasa maupun oleh hukum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *